Wednesday, November 17, 2004

Tukang Sapu Jembatan

Bila Anda pernah menyeberang jalan di siang hari dari gedung Telkom di Jalan Gatot Subroto dengan memakai jembatan penyeberangan, Anda kemungkinan besar akan bertemu dengan sosok lelaki tua berbaju hitam lengkap dengan peralatan kerjanya sedang menyapu sampah di jembatan tersebut.

Sudah pasti seragam hitam bukanlah seragam pegawai Pemda. Ia hanyalah seorang lelaki tua yang mengharapkan upah atas jerih payahnya dari penyeberang jalan. Ia tidak pernah menadahkan tangan. Ia akan tekun menyapu jembatan tersebut hingga benar-benar bersih. Kesadaran Anda lah yang ia tuntut.

Kalau saya sedang melewati jembatan tersebut, hampir selalu saya memberi dia lima ratus atau seribu rupiah. Jangan lihat dari jumlahnya, itu sekadar menunjukkan penghargaan saya terhadap dedikasinya.

Saya pernah berpikir, bila saja para pengemis yang berada di jembatan penyeberangan berbuat yang sama seperti bapak tua itu. Saya yakin, orang-orang akan lebih menghargai mereka. Bukan karena belas kasihan tapi lebih kepada penghargaan.

Saya sendiri, hampir tidak pernah memberi "sedekah" kepada para pengemis jalanan. Bagi saya itu tidak mendidik. Mungkin bagi pengemis yang ada di jembatan penyeberangan Komdak, saya akan selalu dikenang sebagai lelaki kikir. Dalam seminggu setidaknya tiga kali saya akan memakai jembatan itu, tanpa pernah memberi "sedekah" kepada sang pengemis, yang orangnya itu-itu juga. Tapi, bagi saya itu lebih baik, dari pada saya tidak ikhlas. (dans)

Tuesday, November 16, 2004

The Plaza Semanggi

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia beberapa tahun lalu, salah satunya merupakan akibat dari kredit macet perbankan, yang di antaranya disumbang oleh tunggakan kredit di sector property. Anehnya, ketika pertumbuhan ekonomi kita mulai merangka, sector property ini pula tampak nyata tumbuh berkembang. Salah satu penandanya adalah The Plaza Semanggi yang terletak di sisi Bundaran Semanggi. Tempat perbelanjaan baru ini, sebenarnya “hanya” memanfaatkan ruang yang kosong di antara bangunan tua Gedung Veteran RI dan Balai Sarbini.

Pada awalnya, saya berharap banyak dengan kehadiran The Plaza Semanggi, yang sekarang disingkat menjadi Pelangi, akan memberi tawaran baru tempat belanja yang cozy dan prestise di Jakarta, setelah Plaza Senayan dan Plaza Indonesia. Terlebih tempatnya sangat strategis, di kawasan Segitiga Emas.

Harapan tinggallah harapan. Pelangi, bagi saya, tidak lebih dari Plaza Blok M, bahkan lebih buruk lagi. Lay out-nya, yang terlalu memaksakan diri memanfaatkan ruang yang ada, selalu membuat saya kebingungan untuk kembali ke toko tertentu. Dan saya ternyata tidak sendirian. Beberapa teman yang saya sempat saya tanyai tentang Pelangi memberi komentar yang sama. Bahkan ada di antaranya yang sudah membulatkan tekad tidak bakal menginjak Pelangi lagi untuk shopping.

Pun kalau kita lihat sekarang-sekarang, Pelangi memang relatif sepi. Kalau pun terlihat ramai, naga-naganya itu lebih karena beragamnya resto-cafe, Giant dan Semanggi 21 yang menjadi daya tarik utama di sana.

Dari aspek bisnis, itu tentunya merugikan tenant Pelangi, terlebih mereka yang ada di lingkaran Balai Sarbini, tempat yang rawan membuat orang tersesat. Dan dalam jangka panjang akan merugikan Pelangi sendiri sebagai entitas bisnis.

Sayang, jargon "the best meeting point" yang didengung-dengungkan Pelangi, semata-mata karena strategis lokasi saja, bukan dalam hal kenyamanan. Padahal yang namanya rasa nyaman sudah menjadi standar utama pusat perbelanjaan modern di kota-kota besar yang sarat kompetisi.

Saya tidak tahu pasti sampai kapan Pelangi keukeuh dengan lay out toko-tokonya seperti sekarang. Kalau mereka sudah punya dengan jenis tenant sekarang, mungkin perubahan tidak diperlukan, tapi bila mereka ingin merek-merek ternama, Pelangi mutlak melakukan perubahan. (dans)

Monday, November 15, 2004

Sekadar Intro....

Udah lama banget gua pengin punya ruang untuk nulis pernak-pernik pemikiran gua tentang Jakarta, dan baru kali ini kesampaian. Entah kenapa dorongan itu begitu kuat hari ini. Jadilah gua membuat blog sendiri. Ini berarti blog gua yang lama, mau tidak mau harus masuk liang kubur. Yah, gua tidak punya cukup waktu untuk me-maintenance dua blog sekaligus.

Gua berharapa melalui blog ini, pernak-pernik pemikiran dan rekam peristiwa yang selama ini hanya ada dalam benak gua bisa tertuangkan dalam tulisan. Siapa tau ntar-ntar berguna. Kali bisa dibuat jadi buku, misalnya :)